Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019  




Kamis 25 April 2019

19:26 WIB

Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019
@prfmnews

Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019
PRFMNewsChannel

Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019

Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019
Senin 18 Maret 2019, 13:51 WIB

Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019
Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019




Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019

Redaksi Oleh : Iqbal Pratama
Foto Oleh : Pikiran Rakyat

BANDUNG, (PRFM) - Debat Ketiga Pilpres 2019 mempertemukan kedua  calon Wakil Presiden yaitu KH. Maruf Amin dan Sandiaga Uno. Debat  tahap ketiga antar Cawapres itu, diselenggarakan KPU di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu 17 Maret 2019 malam.


Dalam lima debat yang digelar Komisi Pemilihan Umum, ini adalah satu-satunya debat yang hanya mempertemukan cawapres. KPU memilihkan tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, serta sosial dan budaya.


Analisa

Peneliti Politik dari Telkom University sekaligus Direktur Pusat Studi Demokrasi dan Partai Politik (PSDPP), Dr. Dedi Kurnia Syah memberikan analisanya disetiap sesi debat kepada PRFM. Baik Maruf maupun Sandi memiliki keunggualannya masing - masing. Namun keduanya juga kerap bias dalam menyampaikan gagasannya terkait tema debat kali ini.


1.  Visi Misi

Saat pemaparan visi misi,  Maruf Amin dinilai berhasil mengantarkan visi misi pasangan 01 terkait tema debat. Sementara  Sandiaga  justru tidak membawa kesan baru di pembuka debat.  Sandiaga seharusnya lebih detail dan taktis saat menjelaskan program ketenagakerjaan, tetapi tidak muncul di pembukaan debat.

"Maruf Amin berhasil mengantarkan visi misi 01 terkait tema debat, uraiannya cukup jelas dan mudah dipahami, bangunan narasinya sangat bagus, kondisi ini menegaskan jika beliau memiliki kecukupan pengalaman sebagai politisi dan pemimpin lembaga keummatan. Sandiaga, justru tidak membawa kesan baru di pembuka debat, apa yang ia utarakan adalah hal-hal normatif di mana sudah sering ia utarakan di setiap momentum. Sandiaga seharusnya lebih detail dan taktis saat menjelaskan program ketenagakerjaan, tetapi tidak muncul di pembuka."  kata Dedi.


2. Gagasan Pendidikan

Berbeda saat pemaparan visi misi, justru pada sesi kali ini Sandiaga lebih unggul. Menurut Dedi, Sandiaga cukup baik memahami masalah pendidikan di Indonesia yang tidak sinergi dengan kebutuhan inovasi industri.  Dengan pengalaman sebagai pengusaha, Sandiaga mengerti apa yang seharusnya dibangun oleh negara.

"Jika pemilih benar-benar mempertimbangkan pilihannya berdasar argumentasi, Sandiaga menjadi pilihan terbaik soal ini.Maruf Amin bagian ini cukup disayangkan, selain terlalu bias dalam gagasan, MA mengulang apa yang sebenarnya sudah ada, misal terkait niatan mendirikan Badan Riset Nasional, di mana badan dimaksud saat ini sudah ada atau setidaknya yang mirip dengan itu," jelas Dedi.


3. Gagasan Kesehatan

Menurut Dedi, Maruf Amin tidak cukup meyakinkan karena hanya menduplikasi penjelasan petahana dengan menjelaskan tentang Kartu Indonesia Sehat. Sementara itu,  Sandiaga berhasil mengambil celah permasalahan kesehatan nasional, dengan mengambil analogi kasus personal.

" Maruf Amin tidak cukup meyakinkan karena hanya menduplikasi penjelasan petahana, di mana KIS yang ia maksud saat ini memiliki banyak persoalan, sementara MA tidak berhasil menyampaikan solusi.Sandiaga berhasil mengambil celah permasalahan kesehatan nasional, dengan mengambil analogi kasus personal, dan upaya menarik para ahli Indonesia yang mukim di luar negeri untuk kembali mengabdi. Selain itu Sandiaga cukup mengesankan dengan membangun relasi pendidikan dengan kesehatan, di mana Sandiaga akan membuat lingkaram kesehatan di mulai dari hidup sehat di ruang pendidikan. Hal ini bisa terbilang baru, tinggal bagaimana Sandiaga dapat mengimplementasikan nanti saat terpilih,"kata Dedi.


4. Gagasan Ketenagakerjaan

Dalam sesi ini, baik Maruf Amin maupun Sandiaga masih berkutat soal teknis kecakapan kerja, di mana tema ini seharusnya lebih luas dari itu, yakni penguatan regulasi yang mampu mengatur distribusi angkatan kerja Indonesia. Dedi menerangkan,  kalaupun kecakapan kerja harus menjadi prioritas, seharusnya menjawab zaman, di mana kecakapan yang diperlukan adalah berbasis teknologi 4.0, bahkan mungkin harus memikirkan 5.0.


5. Gagasan Sosial Budaya

Sama halnya dengan masalah ketenagakerjaan, kedua Cawapres terlalu bias memahami persoalan sosial budaya sebagai bagian dari strategi pembangunan. Menurut Dedi,  pada tatanan pimpinan nasional seharusnya gagasan yang mengemuka merupakan wilayah kebijakan, bukan hal teknis.

"Budaya seharusnya menjadi identitas Indonesia di mata dunia, dan bagaimana mengupayakan hal itu bisa terjadi, sayangnya kedua cawapres tidak berhasil menawarkan solusi soal itu," pungkasnya. 



Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019

Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019

 

BERITA TERKAIT


Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019
 

BERITA PILIHAN


Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019

 

BERITA LAINNYA

Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019

APDI Minta POLRI Netral dan Jaga Transparansi serta Kejujuran Pemilu
Kamis 25 April 2019


Gagal Jadi Sekda, Benny Duga Terjadi Maladministrasi
Kamis 25 April 2019 Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019 Oded Persilahkan Benny Bachtiar Menggugat
Kamis 25 April 2019 Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019 Sepekan Jelang Ramadhan, Stok Telur Menipis
Kamis 25 April 2019 Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019 Permainan Mengerucut Pada Ezechiel, Pengamat: Permainan Monoton
Kamis 25 April 2019 Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019 Persib Kembali Kalah, Pengamat Nilai Radovic Tambah Catatan Minus
Kamis 25 April 2019 Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019 Optimistis Leg Kedua, Persib Punya Modal Gol Tandang
Kamis 25 April 2019 Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019

Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019

 

 

BERITA TERKAIT

Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019 Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019

Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019
Senin 18 Maret 2019, 13:51 WIB

Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019
Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019


Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019

Redaksi Oleh : Iqbal Pratama
Sumber Foto : Pikiran Rakyat


BANDUNG, (PRFM) - Debat Ketiga Pilpres 2019 mempertemukan kedua  calon Wakil Presiden yaitu KH. Maruf Amin dan Sandiaga Uno. Debat  tahap ketiga antar Cawapres itu, diselenggarakan KPU di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu 17 Maret 2019 malam.


Dalam lima debat yang digelar Komisi Pemilihan Umum, ini adalah satu-satunya debat yang hanya mempertemukan cawapres. KPU memilihkan tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, serta sosial dan budaya.


Analisa

Peneliti Politik dari Telkom University sekaligus Direktur Pusat Studi Demokrasi dan Partai Politik (PSDPP), Dr. Dedi Kurnia Syah memberikan analisanya disetiap sesi debat kepada PRFM. Baik Maruf maupun Sandi memiliki keunggualannya masing - masing. Namun keduanya juga kerap bias dalam menyampaikan gagasannya terkait tema debat kali ini.


1.  Visi Misi

Saat pemaparan visi misi,  Maruf Amin dinilai berhasil mengantarkan visi misi pasangan 01 terkait tema debat. Sementara  Sandiaga  justru tidak membawa kesan baru di pembuka debat.  Sandiaga seharusnya lebih detail dan taktis saat menjelaskan program ketenagakerjaan, tetapi tidak muncul di pembukaan debat.

"Maruf Amin berhasil mengantarkan visi misi 01 terkait tema debat, uraiannya cukup jelas dan mudah dipahami, bangunan narasinya sangat bagus, kondisi ini menegaskan jika beliau memiliki kecukupan pengalaman sebagai politisi dan pemimpin lembaga keummatan. Sandiaga, justru tidak membawa kesan baru di pembuka debat, apa yang ia utarakan adalah hal-hal normatif di mana sudah sering ia utarakan di setiap momentum. Sandiaga seharusnya lebih detail dan taktis saat menjelaskan program ketenagakerjaan, tetapi tidak muncul di pembuka."  kata Dedi.


2. Gagasan Pendidikan

Berbeda saat pemaparan visi misi, justru pada sesi kali ini Sandiaga lebih unggul. Menurut Dedi, Sandiaga cukup baik memahami masalah pendidikan di Indonesia yang tidak sinergi dengan kebutuhan inovasi industri.  Dengan pengalaman sebagai pengusaha, Sandiaga mengerti apa yang seharusnya dibangun oleh negara.

"Jika pemilih benar-benar mempertimbangkan pilihannya berdasar argumentasi, Sandiaga menjadi pilihan terbaik soal ini.Maruf Amin bagian ini cukup disayangkan, selain terlalu bias dalam gagasan, MA mengulang apa yang sebenarnya sudah ada, misal terkait niatan mendirikan Badan Riset Nasional, di mana badan dimaksud saat ini sudah ada atau setidaknya yang mirip dengan itu," jelas Dedi.


3. Gagasan Kesehatan

Menurut Dedi, Maruf Amin tidak cukup meyakinkan karena hanya menduplikasi penjelasan petahana dengan menjelaskan tentang Kartu Indonesia Sehat. Sementara itu,  Sandiaga berhasil mengambil celah permasalahan kesehatan nasional, dengan mengambil analogi kasus personal.

" Maruf Amin tidak cukup meyakinkan karena hanya menduplikasi penjelasan petahana, di mana KIS yang ia maksud saat ini memiliki banyak persoalan, sementara MA tidak berhasil menyampaikan solusi.Sandiaga berhasil mengambil celah permasalahan kesehatan nasional, dengan mengambil analogi kasus personal, dan upaya menarik para ahli Indonesia yang mukim di luar negeri untuk kembali mengabdi. Selain itu Sandiaga cukup mengesankan dengan membangun relasi pendidikan dengan kesehatan, di mana Sandiaga akan membuat lingkaram kesehatan di mulai dari hidup sehat di ruang pendidikan. Hal ini bisa terbilang baru, tinggal bagaimana Sandiaga dapat mengimplementasikan nanti saat terpilih,"kata Dedi.


4. Gagasan Ketenagakerjaan

Dalam sesi ini, baik Maruf Amin maupun Sandiaga masih berkutat soal teknis kecakapan kerja, di mana tema ini seharusnya lebih luas dari itu, yakni penguatan regulasi yang mampu mengatur distribusi angkatan kerja Indonesia. Dedi menerangkan,  kalaupun kecakapan kerja harus menjadi prioritas, seharusnya menjawab zaman, di mana kecakapan yang diperlukan adalah berbasis teknologi 4.0, bahkan mungkin harus memikirkan 5.0.


5. Gagasan Sosial Budaya

Sama halnya dengan masalah ketenagakerjaan, kedua Cawapres terlalu bias memahami persoalan sosial budaya sebagai bagian dari strategi pembangunan. Menurut Dedi,  pada tatanan pimpinan nasional seharusnya gagasan yang mengemuka merupakan wilayah kebijakan, bukan hal teknis.

"Budaya seharusnya menjadi identitas Indonesia di mata dunia, dan bagaimana mengupayakan hal itu bisa terjadi, sayangnya kedua cawapres tidak berhasil menawarkan solusi soal itu," pungkasnya. 



 

BERITA LAINNYA



Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019

Oded Persilahkan Benny Bachtiar Menggugat
Kamis 25 April 2019
Kota Bandung


Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019

Sepekan Jelang Ramadhan, Stok Telur Menipis
Kamis 25 April 2019
Kota Bandung


Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019

Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019

 

Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019  TWITER @prfmnews





 

BERITA PILIHAN

 

Analisa Gagasan Debat Ketiga Pilpres 2019