Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya  




Rabu 13 November 2019

01:55 WIB

Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya
@prfmnews

Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya
PRFMNewsChannel

Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya

Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya
Kamis 23 Agustus 2018, 17:30 WIB
Kesehatan
Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya
Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya




Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya

Redaksi Oleh : Karima - Job PRFM
Foto Oleh : Istimewa

BANDUNG, (PRFM) - Sianida adalah racun. Rattlesnake venom adalah racun. Produk rumah tangga tertentu dapat menjadi racun. Tapi bagaimana dengan minyak kelapa? 

Dikutip CNN, dalam perkuliahannya di Universitas Freiburg yang seluruhnya dalam bahasa Jerman dan diposting pada bulan Juli, profesor Karin Michels dari Institut Pencegahan dan Tumor Epidemiologi, menyebutkan tentang kesehatan seputar minyak kelapa itu "omong kosong" dan mengatakan bahwa itu merupakan "racun murni " yang mengandung lemak jenuh dan ancamannya terhadap kesehatan kardiovaskular.

"Minyak kelapa adalah salah satu hal terburuk yang bisa kamu makan," kata Michels.

Organisasi kesehatan cenderung melarang penggunaan minyak kelapa yang lebih dari 80% lemak jenuh. The American Heart Association mengatakan itu lebih baik dipakai pada kulit daripada untuk dimakan. Tidak lebih dari 5% atau 6% dari kalori harian berasal dari lemak jenuh, sekitar 13 gram per hari. Asosiasi ini juga menganjurkan untuk mengganti minyak kelapa dengan "lemak sehat" seperti yang ditemukan dalam canola dan minyak zaitun, alpukat dan ikan berlemak.

Tetapi minyak kelapa juga meningkatkan HDL, kolesterol "baik", terutama ketika mengganti karbohidrat dalam makanan. Ini mungkin karena tingginya kandungan asam lemak yang dikenal sebagai asam laurat.

Peningkatan HDL yang terlihat dengan konsumsi minyak kelapa dapat mengimbangi beberapa risiko penyakit, itu masih tidak sebaik mengkonsumsi minyak tak jenuh, yang tidak hanya meningkatkan HDL tetapi menurunkan LDL.

Salah satu peran HDL adalah membantu mengambil kolesterol LDL dari aliran darah. "Tetapi beberapa bentuk HDL tidak melakukan itu," kata Willett, "Jadi kami tidak tahu pasti bahwa HDL yang tinggi lebih baik," katanya. 

Sementara tingkat LDL yang meningkat digunakan sebagai penanda untuk memprediksi risiko kardiovaskular dan tidak selalu diartikan ke serangan jantung.

Penelitian Cochrane pada tahun 2015 menemukan bahwa mengurangi lemak jenuh dapat membantu menurunkan risiko penyakit kardiovaskular sebesar 17%.

Minyak kelapa bersifat padat kalori, yang berarti mengonsumsi dalam jumlah besar tanpa mengurangi sumber kalori lain dapat menyebabkan penambahan berat badan. Hanya satu sendok makan yang memiliki 120 kalori, hampir sama dengan apel besar atau empat cangkir popcorn.

Bagaimanapun minyak kelapa memiliki tempat dalam makanan seseorang. Tetapi untuk penggunaan sehari-hari para ahli merekomendasikan minyak nabati seperti minyak zaitun, canola atau kedelai, bersama dengan kacang dan biji-bijian, sebagai sumber utama lemak dalam makanan.

"Bukan berarti kamu harus benar-benar menghindari minyak kelapa, tetapi batasi minyak kelapa ke tempat yang benar-benar memerlukan rasa khusus, seperti untuk makanan Thailand atau untuk memanggang hidangan penutup khusus," kata Willett.










 

BERITA TERKAIT


Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya
 

BERITA PILIHAN


Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya

 

BERITA LAINNYA

Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya

Robert Sanjung Pemain dan Dukungan Bobotoh
Selasa 12 November 2019


746 Desa Belum Punya BUMDes, Pemprov Jabar Siap Terjunkan Patriot Desa
Selasa 12 November 2019 Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya Pemprov Jabar Terus Dorong DPRD Anggarkan Rute Penerbangan Bandung-Pangandaran
Selasa 12 November 2019 Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya Ditargetkan Beroperasi Pada 2024, Tol Cigatas Berpotensi Berubah Nama
Selasa 12 November 2019 Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya Dishub Jabar Sebut Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bisa Digunakan Pada Akhir 2021
Selasa 12 November 2019 Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya Cara Sederhana Jaga Kesehatan Saat Musim Hujan
Selasa 12 November 2019 Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya Wagub Jabar Dukung Fatwa MUI Soal Salam Agama Lain
Selasa 12 November 2019 Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya

Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya

 

 

BERITA TERKAIT

Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya

Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya
Kamis 23 Agustus 2018, 17:30 WIB
Kesehatan

Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya
Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya


Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya

Redaksi Oleh : Karima - Job PRFM
Sumber Foto : Istimewa


BANDUNG, (PRFM) - Sianida adalah racun. Rattlesnake venom adalah racun. Produk rumah tangga tertentu dapat menjadi racun. Tapi bagaimana dengan minyak kelapa? 

Dikutip CNN, dalam perkuliahannya di Universitas Freiburg yang seluruhnya dalam bahasa Jerman dan diposting pada bulan Juli, profesor Karin Michels dari Institut Pencegahan dan Tumor Epidemiologi, menyebutkan tentang kesehatan seputar minyak kelapa itu "omong kosong" dan mengatakan bahwa itu merupakan "racun murni " yang mengandung lemak jenuh dan ancamannya terhadap kesehatan kardiovaskular.

"Minyak kelapa adalah salah satu hal terburuk yang bisa kamu makan," kata Michels.

Organisasi kesehatan cenderung melarang penggunaan minyak kelapa yang lebih dari 80% lemak jenuh. The American Heart Association mengatakan itu lebih baik dipakai pada kulit daripada untuk dimakan. Tidak lebih dari 5% atau 6% dari kalori harian berasal dari lemak jenuh, sekitar 13 gram per hari. Asosiasi ini juga menganjurkan untuk mengganti minyak kelapa dengan "lemak sehat" seperti yang ditemukan dalam canola dan minyak zaitun, alpukat dan ikan berlemak.

Tetapi minyak kelapa juga meningkatkan HDL, kolesterol "baik", terutama ketika mengganti karbohidrat dalam makanan. Ini mungkin karena tingginya kandungan asam lemak yang dikenal sebagai asam laurat.

Peningkatan HDL yang terlihat dengan konsumsi minyak kelapa dapat mengimbangi beberapa risiko penyakit, itu masih tidak sebaik mengkonsumsi minyak tak jenuh, yang tidak hanya meningkatkan HDL tetapi menurunkan LDL.

Salah satu peran HDL adalah membantu mengambil kolesterol LDL dari aliran darah. "Tetapi beberapa bentuk HDL tidak melakukan itu," kata Willett, "Jadi kami tidak tahu pasti bahwa HDL yang tinggi lebih baik," katanya. 

Sementara tingkat LDL yang meningkat digunakan sebagai penanda untuk memprediksi risiko kardiovaskular dan tidak selalu diartikan ke serangan jantung.

Penelitian Cochrane pada tahun 2015 menemukan bahwa mengurangi lemak jenuh dapat membantu menurunkan risiko penyakit kardiovaskular sebesar 17%.

Minyak kelapa bersifat padat kalori, yang berarti mengonsumsi dalam jumlah besar tanpa mengurangi sumber kalori lain dapat menyebabkan penambahan berat badan. Hanya satu sendok makan yang memiliki 120 kalori, hampir sama dengan apel besar atau empat cangkir popcorn.

Bagaimanapun minyak kelapa memiliki tempat dalam makanan seseorang. Tetapi untuk penggunaan sehari-hari para ahli merekomendasikan minyak nabati seperti minyak zaitun, canola atau kedelai, bersama dengan kacang dan biji-bijian, sebagai sumber utama lemak dalam makanan.

"Bukan berarti kamu harus benar-benar menghindari minyak kelapa, tetapi batasi minyak kelapa ke tempat yang benar-benar memerlukan rasa khusus, seperti untuk makanan Thailand atau untuk memanggang hidangan penutup khusus," kata Willett.






 

BERITA LAINNYA



Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya

Robert Sanjung Pemain dan Dukungan Bobotoh
Selasa 12 November 2019
Persib vs Arema FC 2019


Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya

Dishub Jabar Sebut Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bisa Digunakan Pada Akhir 2021
Selasa 12 November 2019
Kereta Cepat Jakarta-Bandung


Apakah Minyak Kelapa Mengandung Racun? Ini Penjelasannya

Cara Sederhana Jaga Kesehatan Saat Musim Hujan
Selasa 12 November 2019
Musim Hujan