Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal  




Rabu 27 Maret 2019

03:23 WIB

Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal
@prfmnews

Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal
PRFMNewsChannel

Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal

Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal
Minggu 13 Januari 2019, 07:39 WIB

Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal
Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal




Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal

Redaksi Oleh : Desy Viani
Foto Oleh : bmkg

BANDUNG, (PRFM) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa beruntun yang terekam di Selat Sunda pada 10 dan 11 Januari 2019, tidak mengakibatkan kenaikan permukaan air laut yang signifikan sebagai indikasi tsunami di kawasan tersebut.

Terkait potensi terjadinya tsunami di Selat Sunda, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Muhamad Sadly mengatakan hal tersebut masih memungkinkan. Mengingat terdapat tiga sumber tsunami di Selat Sunda, yakni Kompleks Gunung Anak Krakatau (GAK), Zona Graben, dan Zona Megathrust.

"Kompleks GAK terdiri dari Gunung Anak Krakatau, Pulau Sertung, Pulau Rakata, dan Pulau Panjang. Gunung serta ketiga pulau tersebut tersusun dari batuan yang retak-retak secara sistemik akibat aktivitas vulkano-tektonik. Akibatnya, kompleks tersebut rentan mengalami runtuhan lereng batuan (longsor) ke dalam laut, dan berpotensi kembali membangkitkan tsunami," terangnya dalam siaran pers yang diterima PRFM, Minggu (13/1/2019).

Begitupun dengan Zona Graben yang berada di sebelah Barat hingga Barat Daya Kompleks GAK, yang merupakan zona batuan rentan longsor dan berpotensi memicu gelombang tsunami.

Sementara itu, lanjut Sadly, Zona Megathrust termasuk sebagai wilayah yang berpotensi membangkitkan patahan naik pemicu tsunami.

“Atas dasar itulah hingga saat ini BMKG tetap memantau perkembangan kegempaan dan fluktuasi muka air laut di Selat Sunda. BMKG juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai zona bahaya dengan radius 500 meter dari bibir pantai yang elevasi ketinggiannya kurang dari 5 meter,” ujarnya.



Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal

Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal

 

BERITA TERKAIT


Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal
 

BERITA PILIHAN


Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal

 

BERITA LAINNYA

Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal

Jika Tak Melanggar, Kasatpol PP Kota Bandung Bisa Dari Tentara Atau Polisi
Selasa 26 Maret 2019


Jembatan Pasirhonje Amblas, Akses Menuju Desa di Ciwidey Terputus
Selasa 26 Maret 2019 Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal Revisi Perda Perlindungan Anak Disampaikan ke Dewan Bulan April
Selasa 26 Maret 2019 Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal Calon Jemaah yang Sudah Pernah Berhaji Harus Bayar Visa Progresif
Selasa 26 Maret 2019 Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal Calon Jemaah yang Sudah Pernah Berhaji Harus Bayar Visa Progresif
Selasa 26 Maret 2019 Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal "Kang Pisman" Jadi Rel Utama Atasi Persoalan Sampah di Bandung
Senin 25 Maret 2019 Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal 23% Warga Bandung Ditargetkan Pakai Transportasi Umum di Akhir Tahun Ini
Senin 25 Maret 2019 Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal

Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal

 

 

BERITA TERKAIT

Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal

Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal
Minggu 13 Januari 2019, 07:39 WIB

Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal
Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal


Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal

Redaksi Oleh : Desy Viani
Sumber Foto : bmkg


BANDUNG, (PRFM) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa beruntun yang terekam di Selat Sunda pada 10 dan 11 Januari 2019, tidak mengakibatkan kenaikan permukaan air laut yang signifikan sebagai indikasi tsunami di kawasan tersebut.

Terkait potensi terjadinya tsunami di Selat Sunda, Deputi Bidang Geofisika BMKG, Muhamad Sadly mengatakan hal tersebut masih memungkinkan. Mengingat terdapat tiga sumber tsunami di Selat Sunda, yakni Kompleks Gunung Anak Krakatau (GAK), Zona Graben, dan Zona Megathrust.

"Kompleks GAK terdiri dari Gunung Anak Krakatau, Pulau Sertung, Pulau Rakata, dan Pulau Panjang. Gunung serta ketiga pulau tersebut tersusun dari batuan yang retak-retak secara sistemik akibat aktivitas vulkano-tektonik. Akibatnya, kompleks tersebut rentan mengalami runtuhan lereng batuan (longsor) ke dalam laut, dan berpotensi kembali membangkitkan tsunami," terangnya dalam siaran pers yang diterima PRFM, Minggu (13/1/2019).

Begitupun dengan Zona Graben yang berada di sebelah Barat hingga Barat Daya Kompleks GAK, yang merupakan zona batuan rentan longsor dan berpotensi memicu gelombang tsunami.

Sementara itu, lanjut Sadly, Zona Megathrust termasuk sebagai wilayah yang berpotensi membangkitkan patahan naik pemicu tsunami.

“Atas dasar itulah hingga saat ini BMKG tetap memantau perkembangan kegempaan dan fluktuasi muka air laut di Selat Sunda. BMKG juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai zona bahaya dengan radius 500 meter dari bibir pantai yang elevasi ketinggiannya kurang dari 5 meter,” ujarnya.



 

BERITA LAINNYA



Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal

Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal

 

Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal  TWITER @prfmnews





 

BERITA PILIHAN

 

Gempa Beruntun, Muka Air Laut Selat Sunda Tetap Normal