Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme  




Jumat 22 Juni 2018

16:28 WIB

Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme
@prfmnews

Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme
PRFMNewsChannel

Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme

Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme
Selasa 22 Mei 2018, 16:46 WIB

Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme
Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme




Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme

Redaksi Oleh : Rifki Abdul Fahmi
Foto Oleh : Istimewa

BANDUNG,(PRFM) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menilai, pendekatan hard power yang lebih mengedepankan penggunaan tindakan pencegahan sebelum aksi teror dilakukan sangat diperlukan, tetapi belum cukup untuk mencegah terjadinya aksi terorisme.

“Sudah saatnya kita juga menyeimbangkan dengan pendekatan soft power,” kata Presiden Jokowi saat menyampaikan pengantar pada Rapat Terbatas (Ratas) tentang Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme, di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (22/5/2018).

Pendekatan soft power yang dilakukan, menurut Presiden, bukan hanya dengan memperkuat program deradikalisasi kepada mantan napi teroris, tetapi juga memperhatikan lembaga-lembaga mulai dari TK, SD, SMP, SMA, SMK, Perguruan Tinggi, dan ruang-ruang publik, mimbar-mimbar umum dari ajaran-ajaran ideologi terorisme.

Menurut Presiden, langkah preventif ini menjadi penting melihat pada serangan teror bom bunuh diri di Surabaya, di Sidoarjo yang mulai melibatkan keluarga, perempuan, dan anak-anak di bawah umur.

“Ini menjadi sebuah peringatan kepada kita semuanya, menjadi wake up call betapa keluarga telah menjadi target indoktrinasi ideologi terorisme,” ujar Presiden Jokowi seraya menekankan, bahwa ideologi terorisme telah masuk ke sekolah-sekolah.

Untuk itu, Presiden Jokowi meminta agar pendekatan hard power dan soft power ini dipadukan, diseimbangkan, dan saling menguatkan sehingga aksi pencegahan dan penanggulangan terorisme ini bisa berjalan jauh lebih efektif lagi.

Sebelumnya pada awal pengantarnya, Presiden Jokowi mengingatkan, bahwa terorisme adalah kejahatan yang luar biasa terhadap negara, terhadap bangsa, dan juga terhadap kemanusiaan. Ia menambahkan bahwa hampir semua negara di dunia menghadapi ancaman kejahatan terorisme ini.

“Ancaman terorisme bukan hanya terjadi di negara-negara yang sedang dilanda konflik, tapi juga di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, di Uni Eropa juga sedang menghadapi ancaman yang sama,” ujar Presiden Jokowi.

Karena merupakan kejahatan yang luar biasa, maka menurut Presiden, terorisme juga harus dihadapi, dilawan, diperangi juga dengan cara-cara yang juga luar biasa.

Menurut Presiden, selama ini fokus perhatian semua pihak lebih banyak pada pendekatan hard power, dengan lebih mengedepankan penggunaan tindakan pencegahan sebelum aksi teror dilakukan, dengan penegakan hukum yang tegas, keras, dan tanpa kompromi dengan memburu dan membongkar jaringan teroris sampai ke akar-akarnya.

Namun meskipun sangat diperlukan, Presiden menilai, pendekatan hard power itu belum cukup. Menurut Presiden, sudah saatnya pendekatan hard power itu diseimbangkan dengan pendekatan soft power.



Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme

Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme

 

BERITA TERKAIT


Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme
 

BERITA PILIHAN


Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme

 

BERITA LAINNYA

Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme

Arus Balik di Terminal Cicaheum Naik 17% Dibanding Tahun 2017
Jumat 22 Juni 2018


Persib Tantang Persija di Stadion PTIK Jakarta
Jumat 22 Juni 2018 Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme Awal Juni Ini Realisasi APBD Jabar TA 2018 Capai 36,73%
Jumat 22 Juni 2018 Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme Disdukcapil Kota Bandung Gelar Operasi Simpatik di Cicaheum
Jumat 22 Juni 2018 Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme Pengamat Nilai Pemerintah Hanya Fokus Pada Arus Mudik Lebaran
Jumat 22 Juni 2018 Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme Tanggal 24 Juni 2018 Batas Akhir Penyerahan LPPDK Paslon Gubernur
Jumat 22 Juni 2018 Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme Proyek Tol Bandung-Tasik Sudah Tahap Lelang Investasi
Jumat 22 Juni 2018 Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme

Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme

 

 

BERITA TERKAIT

Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme

Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme
Selasa 22 Mei 2018, 16:46 WIB

Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme
Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme


Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme

Redaksi Oleh : Rifki Abdul Fahmi
Sumber Foto : Istimewa


BANDUNG,(PRFM) - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menilai, pendekatan hard power yang lebih mengedepankan penggunaan tindakan pencegahan sebelum aksi teror dilakukan sangat diperlukan, tetapi belum cukup untuk mencegah terjadinya aksi terorisme.

“Sudah saatnya kita juga menyeimbangkan dengan pendekatan soft power,” kata Presiden Jokowi saat menyampaikan pengantar pada Rapat Terbatas (Ratas) tentang Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme, di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (22/5/2018).

Pendekatan soft power yang dilakukan, menurut Presiden, bukan hanya dengan memperkuat program deradikalisasi kepada mantan napi teroris, tetapi juga memperhatikan lembaga-lembaga mulai dari TK, SD, SMP, SMA, SMK, Perguruan Tinggi, dan ruang-ruang publik, mimbar-mimbar umum dari ajaran-ajaran ideologi terorisme.

Menurut Presiden, langkah preventif ini menjadi penting melihat pada serangan teror bom bunuh diri di Surabaya, di Sidoarjo yang mulai melibatkan keluarga, perempuan, dan anak-anak di bawah umur.

“Ini menjadi sebuah peringatan kepada kita semuanya, menjadi wake up call betapa keluarga telah menjadi target indoktrinasi ideologi terorisme,” ujar Presiden Jokowi seraya menekankan, bahwa ideologi terorisme telah masuk ke sekolah-sekolah.

Untuk itu, Presiden Jokowi meminta agar pendekatan hard power dan soft power ini dipadukan, diseimbangkan, dan saling menguatkan sehingga aksi pencegahan dan penanggulangan terorisme ini bisa berjalan jauh lebih efektif lagi.

Sebelumnya pada awal pengantarnya, Presiden Jokowi mengingatkan, bahwa terorisme adalah kejahatan yang luar biasa terhadap negara, terhadap bangsa, dan juga terhadap kemanusiaan. Ia menambahkan bahwa hampir semua negara di dunia menghadapi ancaman kejahatan terorisme ini.

“Ancaman terorisme bukan hanya terjadi di negara-negara yang sedang dilanda konflik, tapi juga di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, di Uni Eropa juga sedang menghadapi ancaman yang sama,” ujar Presiden Jokowi.

Karena merupakan kejahatan yang luar biasa, maka menurut Presiden, terorisme juga harus dihadapi, dilawan, diperangi juga dengan cara-cara yang juga luar biasa.

Menurut Presiden, selama ini fokus perhatian semua pihak lebih banyak pada pendekatan hard power, dengan lebih mengedepankan penggunaan tindakan pencegahan sebelum aksi teror dilakukan, dengan penegakan hukum yang tegas, keras, dan tanpa kompromi dengan memburu dan membongkar jaringan teroris sampai ke akar-akarnya.

Namun meskipun sangat diperlukan, Presiden menilai, pendekatan hard power itu belum cukup. Menurut Presiden, sudah saatnya pendekatan hard power itu diseimbangkan dengan pendekatan soft power.



 

BERITA LAINNYA



Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme

Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme

 

Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme  TWITER @prfmnews





 

BERITA PILIHAN

 

Hard power dan Soft Power Harus Seimbang Untuk Perangi Terorisme