Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura  




Minggu 17 Desember 2017

01:44 WIB

Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura
@prfmnews

Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura
PRFMNewsChannel

Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura

Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura
Jumat 14 Juli 2017, 08:59 WIB

Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura
Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura




Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura

Redaksi Oleh : Kepala Tahura Ir. H. Djuanda - Lianda Lubis
Foto Oleh : Kepala Tahura Ir. H. Djuanda - Lianda Lubis


Dikisahkan dalam sebuah legenda Sangkuriang, Dayang Sumbi yang sedang  menebar helai-helai kain "boeh rarang" seketika terperajat dan berlari menuruni bukit mendengar Sangkuriang yang dengan penuh amarah berkali-kali berteriak menyebut namanya. Sementara para guriang, mahluk halus anak buah Sangkuriang, telah lebih dahulu berlarian ketakutan bersembunyi memasuki tanah karena menyangka hari telah mulai pagi --Kain putih hasil tenunannya yang bercahaya karena pertolongan Sang Hyang disangka cahaya fajar oleh para guriang.

Kemarahan Sangkuriang yang menyadari dirinya telah diperdaya memuncak ketika melihat Dayang Sumbi berlari menjauhinya. Dihentakkan kakinya berkali-kali ke tanah hingga memuntahkan  isi perut bumi. Lava mengalir dari mulut  gunung  hingga ke dasar-dasar lembah dan sungai. Angin pagi yang berputar-putar kencang menerbangkan selendang jingga yang membalut leher Dayang Sumbi yang terus berlari. Selendang terjatuh ke dasar lembah, tersapu lava dan tertimbun  tebing-tebing runtuh.

Ditemukan Agus Nana

Selendang yang terjatuh itu saat ini masih "tertinggal" di Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda. "Ditemukan" oleh Agus Nana, seorang anak Desa Maribaya pada 19 Mei 1983 ketika sedang mencari cacing tanah untuk umpan pancingnya. Selendang itu terhampar di tepi Sungai Cikapundung, berdekatan dengan Curug Lalai membeku dalam batuan lava yang mengeras. Berada sekitar empat kilometer atau satu jam berjalan kaki ke arah Utara dari kantor Balai Pengelolaan Tahura Djuanda.

27 tahun kemudian ketika telah berusian 38 tahun pada Tahun 2010, Agus Nana baru melaporkan "Selendang Dayang Sumbi" yang ditemukannya kepada Balai Pengelolaan Tahura Djuanda. "Waktu itu barangkali saya masih kecil (11 tahun),  sehingga tidak berani memberitahukannya pada siapa-siapa apalagi melaporkannya pada Kantor Balai Tahura Djuanda", begitu alasan Agus kenapa dia menyimpan rahasia penemuannya begitu lama. "Pada saat melaporkan pada kami, Agus Nana mengatakan dia menemukan "batu tulis" dengan hurup yang besar-besar, tapi saya melihatnya lebih mirip motif kulit di punggung buaya",  kata Agus Sulikhman saat dikonfirmasi.

Atas jasanya melaporkan "temuan" tersebut, Pada Tahun 2011 Agus Nana diangkat sebagai Tenaga Kontrak Pengamanan Aset Tahura Djuanda. Sebutan batu tulis kemudian berubah menjadi batu batik, namun akhirnya lebih populer sebagai Batu Selendang Dayang Sumbi. Ganjar --Petugas Tahura Djuanda yang waktu itu bersama-sama Tenny Setiawati dan Agus Sulikhman menerima laporan dari Agus Nana dan kemudian melaporkannya "temuan Agus Nana" ke Balai Arkeologi Bandung-- mengatakan,  sebutan Batu Selendang Dayang Sumbi pertama kali dicetuskan oleh Edi Sutardi yang waktu itu menjabat sebagai Kasubag TU Balai Pengelolaan Tahura Djuanda.

Bentuk dan pola batuan lava yang terlihat menyerupai selendang tentu tidak ada hubungannya dengan Legenda Sangkuriang --Legenda rakyat Jawa Barat tentang kisah cinta tragis antara Sangkuriang dan Dayang Sumbi serta asal usul terjadinya Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Burangrang, Gunung Bukit Tunggul, dan Danau Bandung-- Namun, polanya yang seperti kain berlipat-lipat dengan permukaan yang bertekstur sangat halus, membuatnya terlihat seperti karembong (bhs. Sunda) atau selendang (bhs. Indonesia). Terdapat sekitar lima motif dengan ukuran yang berbeda-beda dengan lipatan panjang berujung lancip dan yang lebih pendek dengan lipatan-lipatan yang lebih besar. Jika terkena sinar matahari, hamparan batuan lava itu pun akan bener-benar terlihat seperti hamparan selendang sutra yang berkilat-kilat.

Saat ini, luas hamparan Batu Selendang Dayang Sumbi yang tersingkap diperkirakan sekitar 10 meter persegi dan ada masih bagian dari batuan lava tersebut yang tertimbun --Tahun 1992, batuan kava ini sempat tertimbun oleh reruntuhan tanah di atasnya saat pembuatan jalan setapak oleh Perhutani yang menggunakan alat-alat berat ringan-- Sementara itu di dasar Sungai Cikapundung, bedekatan dengan batuan lava di atasnya, terdapat hamparan batu lava sejenis yang hanya bisa terlihat saat Sungai Cikapundung surut. Luas hamparanya belum diketahui, namun memiliki pola yang sedikit berbeda. Di beberapa bagian terlihat pola seperti riak air yang melingkar-lingkar.

Lava Pahoehoe

Selain bentuk dan polanya, yang juga sangat menarik dari temuan hamparan batuan lava ini adalah karakteristik lava yang diperkirakan sama dengan lava pahoehoe yang terdapat di Kepulauan Hawaii dan Islandia. Fenomena geologi yang bisa dikatakan anomali. Seperti yang dikatakan Budi Brahmantyo geolog ITB (cekunganbandung.blogspot.co.id), Indonesia yang dikenal sebagai zona subduksi yang biasanya menghasilkan lava andesitis yang lebih kental dan hampir tidak mungkin menghasilkan lava encer yang bersifat basaltik yang merupakan karakteristik khas gunung api di Hawaii.

Fenomena anomali batuan lava tersebut akan semakin terlihat bila dibandingkan dengan batuan lava lainnya yang berada di lapisan dinding dan "langit-langit" atas tebing pada ketinggian sekitar 6-7 meter dari hamparan batuan lava selendang Dayang Sumbi. Batuan lava pada dinding dan langit-langit tebing ini memiliki permukaan yang tajam-tajam berbentuk seperti pecahan-pecahan batok kelapa yang merupakan morfologi umum batuan lava yang berada di Indonesia.

Dalam konteks sejarah geologi, para geolog yang tergabung dalam Ikatan Ahli Gologi Indonesia Jabar-Banten yang pernah melaksanakan geowisata ke lokasi ini pada Bukan Maret 2014 menduga batuan lava Selendang Dayang Sumbi ini berasal dari lava Gunung Tangkuban Parahu yang meletus sekitar 90 ribu hingga 50 ribu tahun yang lalu.

Namun, sebenarnya belum bisa dipastikan apakah lava yang membatu tersebut berasal dari lava Gunung Tangkuban Parahu atau dari gunung yang lebih tua yaitu Gunung Sunda. Bentuknya yang menyerupai kain yang berlipat-lipat, menimbulkan dugaan batuan lava yang mengeras ini memiliki fenomena pembentukan yang serupa dengan Lava Paoehoe yang banyak ditemukan di Kepulauan Hawaii.

Di Kepulauan Hawaii, kata "pahoehoe" yang dilafalkan dengan “pahoyhoy” (yang berarti "tali") adalah batuan lava yang berbentuk seperti kain yang berlipat-lipat dengan permukaan yang relatif halus dan mengkilat. Selain di Hawaii batuan lava seperti ini juga terdapat di Islandia dan terbilang fenomena langka di dunia. Bisa jadi batu karembong atau bat selendang Dayang Sumbi temuan batuan lava pahoehoe pertama dan satu-satunya di Indonesia; hingga saat ini belum ada laporan/publikasi temuan batuan lava seperti ini di daerah lain kecuali di Tahura Djuanda. Hal ini dibenarkan okeh T. Bachtiar, geologist yang juga pernah melakukan penelitian sederhana tentang batuan lava ini.

Cerita Batu Selendang Dayang Sumbi memang telah didistorsi dari cerita "legenda aslinya". Namun, siapa yang bisa menjaga legenda? Mencegahnya agar cerita tidak bergeser dan berkembang kemana-mana. Keberadaannya yang hanya satu-satunya di Indonesia tentu akan menimbulkan banyak penafsiran dan cerita yang bisa dikaitkaan dengan apa saja termasuk legenda. Dan, ini merupakan salah satu misteri yang belum terungkap yang ada di Tahura Djuanda.



Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura

Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura

 

BERITA TERKAIT


Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura
 

BERITA PILIHAN


Tol Bocimi Rampung Maret 2018

Sabtu 16 Desember 2017

Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura

Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura

 

BERITA LAINNYA

Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura

Dedi Mulyadi Imbau Warga Siapkan Asuransi Hari Tua
Sabtu 16 Desember 2017


Revitalisasi 9 Pasar Akan Dimulai Tahun Depan
Jumat 15 Desember 2017 Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura DPRD Pesimis Revitalisasi Pasar Berjalan Mulus di Tahun Ini
Jumat 15 Desember 2017 Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura Gomez Sudah Sodorkan Nama Pemain Incarannya Kepada Manajemen
Jumat 15 Desember 2017 Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura Gomez Sudah Sodorkan Nama Pemain Incarannya Kepada Manajemen
Jumat 15 Desember 2017 Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura Munaslub Digelar, Pengalihan Dukungan Golkar di Pilgub Jabar Terbuka
Jumat 15 Desember 2017 Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura Munaslub Digelar, Pengalihan Dukungan Golkar di Pilgub Jabar Terbuka
Jumat 15 Desember 2017 Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura

Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura

 

 

BERITA TERKAIT

Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura

Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura
Jumat 14 Juli 2017, 08:59 WIB

Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura
Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura


Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura

Redaksi Oleh : Kepala Tahura Ir. H. Djuanda - Lianda Lubis
Sumber Foto : Kepala Tahura Ir. H. Djuanda - Lianda Lubis



Dikisahkan dalam sebuah legenda Sangkuriang, Dayang Sumbi yang sedang  menebar helai-helai kain "boeh rarang" seketika terperajat dan berlari menuruni bukit mendengar Sangkuriang yang dengan penuh amarah berkali-kali berteriak menyebut namanya. Sementara para guriang, mahluk halus anak buah Sangkuriang, telah lebih dahulu berlarian ketakutan bersembunyi memasuki tanah karena menyangka hari telah mulai pagi --Kain putih hasil tenunannya yang bercahaya karena pertolongan Sang Hyang disangka cahaya fajar oleh para guriang.

Kemarahan Sangkuriang yang menyadari dirinya telah diperdaya memuncak ketika melihat Dayang Sumbi berlari menjauhinya. Dihentakkan kakinya berkali-kali ke tanah hingga memuntahkan  isi perut bumi. Lava mengalir dari mulut  gunung  hingga ke dasar-dasar lembah dan sungai. Angin pagi yang berputar-putar kencang menerbangkan selendang jingga yang membalut leher Dayang Sumbi yang terus berlari. Selendang terjatuh ke dasar lembah, tersapu lava dan tertimbun  tebing-tebing runtuh.

Ditemukan Agus Nana

Selendang yang terjatuh itu saat ini masih "tertinggal" di Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda. "Ditemukan" oleh Agus Nana, seorang anak Desa Maribaya pada 19 Mei 1983 ketika sedang mencari cacing tanah untuk umpan pancingnya. Selendang itu terhampar di tepi Sungai Cikapundung, berdekatan dengan Curug Lalai membeku dalam batuan lava yang mengeras. Berada sekitar empat kilometer atau satu jam berjalan kaki ke arah Utara dari kantor Balai Pengelolaan Tahura Djuanda.

27 tahun kemudian ketika telah berusian 38 tahun pada Tahun 2010, Agus Nana baru melaporkan "Selendang Dayang Sumbi" yang ditemukannya kepada Balai Pengelolaan Tahura Djuanda. "Waktu itu barangkali saya masih kecil (11 tahun),  sehingga tidak berani memberitahukannya pada siapa-siapa apalagi melaporkannya pada Kantor Balai Tahura Djuanda", begitu alasan Agus kenapa dia menyimpan rahasia penemuannya begitu lama. "Pada saat melaporkan pada kami, Agus Nana mengatakan dia menemukan "batu tulis" dengan hurup yang besar-besar, tapi saya melihatnya lebih mirip motif kulit di punggung buaya",  kata Agus Sulikhman saat dikonfirmasi.

Atas jasanya melaporkan "temuan" tersebut, Pada Tahun 2011 Agus Nana diangkat sebagai Tenaga Kontrak Pengamanan Aset Tahura Djuanda. Sebutan batu tulis kemudian berubah menjadi batu batik, namun akhirnya lebih populer sebagai Batu Selendang Dayang Sumbi. Ganjar --Petugas Tahura Djuanda yang waktu itu bersama-sama Tenny Setiawati dan Agus Sulikhman menerima laporan dari Agus Nana dan kemudian melaporkannya "temuan Agus Nana" ke Balai Arkeologi Bandung-- mengatakan,  sebutan Batu Selendang Dayang Sumbi pertama kali dicetuskan oleh Edi Sutardi yang waktu itu menjabat sebagai Kasubag TU Balai Pengelolaan Tahura Djuanda.

Bentuk dan pola batuan lava yang terlihat menyerupai selendang tentu tidak ada hubungannya dengan Legenda Sangkuriang --Legenda rakyat Jawa Barat tentang kisah cinta tragis antara Sangkuriang dan Dayang Sumbi serta asal usul terjadinya Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Burangrang, Gunung Bukit Tunggul, dan Danau Bandung-- Namun, polanya yang seperti kain berlipat-lipat dengan permukaan yang bertekstur sangat halus, membuatnya terlihat seperti karembong (bhs. Sunda) atau selendang (bhs. Indonesia). Terdapat sekitar lima motif dengan ukuran yang berbeda-beda dengan lipatan panjang berujung lancip dan yang lebih pendek dengan lipatan-lipatan yang lebih besar. Jika terkena sinar matahari, hamparan batuan lava itu pun akan bener-benar terlihat seperti hamparan selendang sutra yang berkilat-kilat.

Saat ini, luas hamparan Batu Selendang Dayang Sumbi yang tersingkap diperkirakan sekitar 10 meter persegi dan ada masih bagian dari batuan lava tersebut yang tertimbun --Tahun 1992, batuan kava ini sempat tertimbun oleh reruntuhan tanah di atasnya saat pembuatan jalan setapak oleh Perhutani yang menggunakan alat-alat berat ringan-- Sementara itu di dasar Sungai Cikapundung, bedekatan dengan batuan lava di atasnya, terdapat hamparan batu lava sejenis yang hanya bisa terlihat saat Sungai Cikapundung surut. Luas hamparanya belum diketahui, namun memiliki pola yang sedikit berbeda. Di beberapa bagian terlihat pola seperti riak air yang melingkar-lingkar.

Lava Pahoehoe

Selain bentuk dan polanya, yang juga sangat menarik dari temuan hamparan batuan lava ini adalah karakteristik lava yang diperkirakan sama dengan lava pahoehoe yang terdapat di Kepulauan Hawaii dan Islandia. Fenomena geologi yang bisa dikatakan anomali. Seperti yang dikatakan Budi Brahmantyo geolog ITB (cekunganbandung.blogspot.co.id), Indonesia yang dikenal sebagai zona subduksi yang biasanya menghasilkan lava andesitis yang lebih kental dan hampir tidak mungkin menghasilkan lava encer yang bersifat basaltik yang merupakan karakteristik khas gunung api di Hawaii.

Fenomena anomali batuan lava tersebut akan semakin terlihat bila dibandingkan dengan batuan lava lainnya yang berada di lapisan dinding dan "langit-langit" atas tebing pada ketinggian sekitar 6-7 meter dari hamparan batuan lava selendang Dayang Sumbi. Batuan lava pada dinding dan langit-langit tebing ini memiliki permukaan yang tajam-tajam berbentuk seperti pecahan-pecahan batok kelapa yang merupakan morfologi umum batuan lava yang berada di Indonesia.

Dalam konteks sejarah geologi, para geolog yang tergabung dalam Ikatan Ahli Gologi Indonesia Jabar-Banten yang pernah melaksanakan geowisata ke lokasi ini pada Bukan Maret 2014 menduga batuan lava Selendang Dayang Sumbi ini berasal dari lava Gunung Tangkuban Parahu yang meletus sekitar 90 ribu hingga 50 ribu tahun yang lalu.

Namun, sebenarnya belum bisa dipastikan apakah lava yang membatu tersebut berasal dari lava Gunung Tangkuban Parahu atau dari gunung yang lebih tua yaitu Gunung Sunda. Bentuknya yang menyerupai kain yang berlipat-lipat, menimbulkan dugaan batuan lava yang mengeras ini memiliki fenomena pembentukan yang serupa dengan Lava Paoehoe yang banyak ditemukan di Kepulauan Hawaii.

Di Kepulauan Hawaii, kata "pahoehoe" yang dilafalkan dengan “pahoyhoy” (yang berarti "tali") adalah batuan lava yang berbentuk seperti kain yang berlipat-lipat dengan permukaan yang relatif halus dan mengkilat. Selain di Hawaii batuan lava seperti ini juga terdapat di Islandia dan terbilang fenomena langka di dunia. Bisa jadi batu karembong atau bat selendang Dayang Sumbi temuan batuan lava pahoehoe pertama dan satu-satunya di Indonesia; hingga saat ini belum ada laporan/publikasi temuan batuan lava seperti ini di daerah lain kecuali di Tahura Djuanda. Hal ini dibenarkan okeh T. Bachtiar, geologist yang juga pernah melakukan penelitian sederhana tentang batuan lava ini.

Cerita Batu Selendang Dayang Sumbi memang telah didistorsi dari cerita "legenda aslinya". Namun, siapa yang bisa menjaga legenda? Mencegahnya agar cerita tidak bergeser dan berkembang kemana-mana. Keberadaannya yang hanya satu-satunya di Indonesia tentu akan menimbulkan banyak penafsiran dan cerita yang bisa dikaitkaan dengan apa saja termasuk legenda. Dan, ini merupakan salah satu misteri yang belum terungkap yang ada di Tahura Djuanda.



 

BERITA LAINNYA



Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura

Dedi Mulyadi Imbau Warga Siapkan Asuransi Hari Tua
Sabtu 16 Desember 2017
Purwakarta Istimewa


Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura

Revitalisasi 9 Pasar Akan Dimulai Tahun Depan
Jumat 15 Desember 2017
Kota Bandung


Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura

Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura

 

Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura  TWITER @prfmnews





 

BERITA PILIHAN

 

Menilik Kisah Batu Selendang Dayang Sumbi di Tahura