Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang  




Sabtu 22 September 2018

21:44 WIB

Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang
@prfmnews

Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang
PRFMNewsChannel

Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang

Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang
Minggu 04 Maret 2018, 19:16 WIB

Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang
Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang




Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang

Redaksi Oleh : Rizky Perdana
Foto Oleh : Rizky Perdana - PRFM

BANDUNG, (PRFM) - Patahan atau sesar Lembang melintang sepanjang 30 kilometer di Bandung bagian Utara, tepatnya dari ujung barat di Kecamatan Ngamprah (Kabupaten Bandung Barat) hingga sisi timur di Kecamatan Cilengkrang (Kabupaten Bandung). Adanya patahan ini berdasarkan penelitian para ahli, berpotensi terjadinya gempa bumi dengan magnitudo maksimum 6,8 SR yang sewaktu-waktu bisa mengguncang Bandung.

Hasil kajian menunjukkan bahwa laju pergeseran Sesar Lembang mencapai 5,0 mm/tahun. Angka ini bertambah dari prediksi tahun 2011 yang menyebut laju pergeseran sekitar 2,0 - 4,0 mm/tahun. Sementara itu hasil monitoring BMKG juga menunjukkan adanya beberapa aktivitas seismik dengan kekuatan kecil.

Hal ini tentunya harus diwaspadai oleh masyarakat, bukan hanya yang tinggal di sekitar garis patahan saja tapi seluruh warga Bandung. Sebab, jika gempa tersebut terjadi dapat berdampak besar terhadap bangunan-bangunan di kawasan utara, dan hampir seluruh titik Bandung juga terkena imbasnya walau tidak terlalu parah.

Namun ada sisi lain yang bisa diamati disamping potensi bencana gempa tersebut, yaitu keindahan bentangan alam yang terbentuk di Patahan Lembang. Berdasarkan penelitian, Patahan Lembang terbentuk akibat letusan Gunung Sunda di masa silam. Hasilnya, patahan-patahan pun membentang dari Barat ke Timur.

Salah satu hasil patahan yang saat ini bisa dilihat langsung adalah kawasan wisata Tebing Keraton, yang berada di Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Sesuai namanya, tempat wisata yang diresmikan sejak 2016 itu berada diatas tebing dan menyuguhkan hamparan pepohonan yang indah untuk dipandang.

Tebing Keraton masih masuk dalam kompleks Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda. Wisatawan banyak menjadikan Tebing Keraton sebagai spot foto saat matahari terbit (sunrise) atau tenggelam (sunset).

Staff KSDAE Tahura Djuanda, Ganjar Mulyana mengungkapkan, sejak Tebing Keraton dibuka untuk wisata umum, ekonomi warga sekitar pun ikut meningkat. Pasalnya, dengan ramainya kawasan tersebut, dimanfaatkan warga untuk berjualan di sekitarnya.

Pada awalnya warga kaget karena suasana kampung yang biasanya sepi dan hanya ada aktivitas warga, tetapi sekarang hampir setiap akhir pekan dipenuhi oleh wisatawan yang penasaran dengan keindahan Patahan Lembang itu.

"Dulu Tebing Keraton bukan tempat wisata, tapi banyak orang memaksa berkunjung karena kagum lihat pemandangannya. Sehingga dirubah menjadi tempat wisata terbatas. Nilai plusnya, ekonomi masyarakat diuntungkan," ujar Ganjar.

Warga yang kebanyakan berprofesi sebagai petani petani dan bercocok tanam, kini memiliki pekerjaan sampingan dengan membuka warung atau menjadi tukang ojek untuk mengantarkan wisatawan ke gerbang masuk Tebing Keraton.

Dampaknya, warga yang biasanya memperoleh penghasilan saat panen tanaman saja. Namun kini bisa dipastikan setiap akhir pekan mendapat penghasilan tambahan dari kunjungan wisata.

"Sekarang kebanyakan warga sambilan jadi tukang ojek, petugas parkir, atau buka warung. Jadi dapat tambahan penghasilan dengan waktu cepat," imbuhnya.

Menurut Ganjar, sebenarnya masih banyak lokasi Patahan Lembang lainnya yang indah untuk dinikmati, semua itu tersebar di kawasan Utara Lembang. Namun tidak semuanya dibuka untuk umum karena alasan tertentu.

"Seperti daerah di atas kawasan Maribaya Lembang, disana ada cekungan patahan batu mirip Tebing Keraton, tebing itu bagus. Tapi bukan kawasan Tahura, ada sebagian milik Perhutani, dan bukan tempat wisata," jelasnya.


Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang

Selain tempat wisata, Tebing Keraton juga sudah ditetapkan sebagai lokasi pengamatan burung migran dunia yang biasa melintas pada bulan Oktober-November. Kendati demikian, kehadiran wisatawan tidak mengganggu terhadap proses migrasi burung tersebut. Bahkan terkadang dimanfaatkan para fotografer alam untuk memotret burung-burung dunia yang tengah migrasi.

"Sejauh ini belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa pengunjung banyak berdampak pada berkurangnya burung migran," tuturnya.

Untuk lebih mempercantik Tebing Keraton, rencananya tahun ini akan dimulai revitalisasi tahap dua. Nantinya dibangun sebuah Skywalk sepanjang 16 meter yang menjorok keluar dari bibir tebing, dan juga spot foto yang pijakannya sekarang masih berbahan paving block, akan diganti dengan kayu-kayu seluas kurang lebih 200 meter persegi.

Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk menilik nilai positif dari Sesar Lembang sebagai lokasi wisata. Disamping memang harus tetap diwaspadai oleh semua pihak.

Aman Dikunjungi


Meskipun saat ini cuaca ekstrem masih terus terjadi, tapi tempat wisata Tahura Djuanda termasuk Tebing Keraton diklaim Ganjar masih aman dikunjungi. BMKG sendiri memprediksi puncak musim hujan akan berlangsung hingga akhir Maret.

Ia memaparkan, titik yang rawan longsor di Tahura Djuanda yaitu spot jogging track dari Gua Belanda hingga Curug Omas. Selama 2018 ini pun Ganjar mencatat tidak ada kejadian longsor apapun di kompleks Tahura Djuanda.

"Mau datang ke gua atau air terjun, aksesnya masih terkendali. Tapi masyarakat tetap diimbau untuk hati-hati, karena namanya bencana itu tidak bisa diperkirakan," pungkasnya.



Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang

Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang

 

BERITA TERKAIT


Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang
 

BERITA PILIHAN


Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang

 

BERITA LAINNYA

Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang

Hujan Deras dan Angin Kencang, Sebuah Pohon di Jalan Garuda Tumbang
Sabtu 22 September 2018


Eko Akan Layangkan Somasi ke Pemkot, Camat Ujungberung: Silahkan Itu Haknya
Sabtu 22 September 2018 Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang Pak Eko Tuntut Akses Jalan Sesuai Sertifikat Rumahnya
Sabtu 22 September 2018 Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang Penjelasan Panpel Persib Soal Tiket Lawan Persija yang Dikabarkan Sulit Didapat
Sabtu 22 September 2018 Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang Persib Akan Mendapat Hukuman Ini Jika Bobotoh Terpancing Emosi
Sabtu 22 September 2018 Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang Yana Umar Minta Bobotoh Tak Terprovokasi Saat Nonton Persib VS Persija
Sabtu 22 September 2018 Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang Bobotoh yang Tidak Bertiket Bisa Gelar Nonton Bareng
Sabtu 22 September 2018 Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang

Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang

 

 

BERITA TERKAIT

Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang

Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang
Minggu 04 Maret 2018, 19:16 WIB

Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang
Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang


Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang

Redaksi Oleh : Rizky Perdana
Sumber Foto : Rizky Perdana - PRFM


BANDUNG, (PRFM) - Patahan atau sesar Lembang melintang sepanjang 30 kilometer di Bandung bagian Utara, tepatnya dari ujung barat di Kecamatan Ngamprah (Kabupaten Bandung Barat) hingga sisi timur di Kecamatan Cilengkrang (Kabupaten Bandung). Adanya patahan ini berdasarkan penelitian para ahli, berpotensi terjadinya gempa bumi dengan magnitudo maksimum 6,8 SR yang sewaktu-waktu bisa mengguncang Bandung.

Hasil kajian menunjukkan bahwa laju pergeseran Sesar Lembang mencapai 5,0 mm/tahun. Angka ini bertambah dari prediksi tahun 2011 yang menyebut laju pergeseran sekitar 2,0 - 4,0 mm/tahun. Sementara itu hasil monitoring BMKG juga menunjukkan adanya beberapa aktivitas seismik dengan kekuatan kecil.

Hal ini tentunya harus diwaspadai oleh masyarakat, bukan hanya yang tinggal di sekitar garis patahan saja tapi seluruh warga Bandung. Sebab, jika gempa tersebut terjadi dapat berdampak besar terhadap bangunan-bangunan di kawasan utara, dan hampir seluruh titik Bandung juga terkena imbasnya walau tidak terlalu parah.

Namun ada sisi lain yang bisa diamati disamping potensi bencana gempa tersebut, yaitu keindahan bentangan alam yang terbentuk di Patahan Lembang. Berdasarkan penelitian, Patahan Lembang terbentuk akibat letusan Gunung Sunda di masa silam. Hasilnya, patahan-patahan pun membentang dari Barat ke Timur.

Salah satu hasil patahan yang saat ini bisa dilihat langsung adalah kawasan wisata Tebing Keraton, yang berada di Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Sesuai namanya, tempat wisata yang diresmikan sejak 2016 itu berada diatas tebing dan menyuguhkan hamparan pepohonan yang indah untuk dipandang.

Tebing Keraton masih masuk dalam kompleks Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda. Wisatawan banyak menjadikan Tebing Keraton sebagai spot foto saat matahari terbit (sunrise) atau tenggelam (sunset).

Staff KSDAE Tahura Djuanda, Ganjar Mulyana mengungkapkan, sejak Tebing Keraton dibuka untuk wisata umum, ekonomi warga sekitar pun ikut meningkat. Pasalnya, dengan ramainya kawasan tersebut, dimanfaatkan warga untuk berjualan di sekitarnya.

Pada awalnya warga kaget karena suasana kampung yang biasanya sepi dan hanya ada aktivitas warga, tetapi sekarang hampir setiap akhir pekan dipenuhi oleh wisatawan yang penasaran dengan keindahan Patahan Lembang itu.

"Dulu Tebing Keraton bukan tempat wisata, tapi banyak orang memaksa berkunjung karena kagum lihat pemandangannya. Sehingga dirubah menjadi tempat wisata terbatas. Nilai plusnya, ekonomi masyarakat diuntungkan," ujar Ganjar.

Warga yang kebanyakan berprofesi sebagai petani petani dan bercocok tanam, kini memiliki pekerjaan sampingan dengan membuka warung atau menjadi tukang ojek untuk mengantarkan wisatawan ke gerbang masuk Tebing Keraton.

Dampaknya, warga yang biasanya memperoleh penghasilan saat panen tanaman saja. Namun kini bisa dipastikan setiap akhir pekan mendapat penghasilan tambahan dari kunjungan wisata.

"Sekarang kebanyakan warga sambilan jadi tukang ojek, petugas parkir, atau buka warung. Jadi dapat tambahan penghasilan dengan waktu cepat," imbuhnya.

Menurut Ganjar, sebenarnya masih banyak lokasi Patahan Lembang lainnya yang indah untuk dinikmati, semua itu tersebar di kawasan Utara Lembang. Namun tidak semuanya dibuka untuk umum karena alasan tertentu.

"Seperti daerah di atas kawasan Maribaya Lembang, disana ada cekungan patahan batu mirip Tebing Keraton, tebing itu bagus. Tapi bukan kawasan Tahura, ada sebagian milik Perhutani, dan bukan tempat wisata," jelasnya.


Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang

Selain tempat wisata, Tebing Keraton juga sudah ditetapkan sebagai lokasi pengamatan burung migran dunia yang biasa melintas pada bulan Oktober-November. Kendati demikian, kehadiran wisatawan tidak mengganggu terhadap proses migrasi burung tersebut. Bahkan terkadang dimanfaatkan para fotografer alam untuk memotret burung-burung dunia yang tengah migrasi.

"Sejauh ini belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa pengunjung banyak berdampak pada berkurangnya burung migran," tuturnya.

Untuk lebih mempercantik Tebing Keraton, rencananya tahun ini akan dimulai revitalisasi tahap dua. Nantinya dibangun sebuah Skywalk sepanjang 16 meter yang menjorok keluar dari bibir tebing, dan juga spot foto yang pijakannya sekarang masih berbahan paving block, akan diganti dengan kayu-kayu seluas kurang lebih 200 meter persegi.

Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk menilik nilai positif dari Sesar Lembang sebagai lokasi wisata. Disamping memang harus tetap diwaspadai oleh semua pihak.

Aman Dikunjungi


Meskipun saat ini cuaca ekstrem masih terus terjadi, tapi tempat wisata Tahura Djuanda termasuk Tebing Keraton diklaim Ganjar masih aman dikunjungi. BMKG sendiri memprediksi puncak musim hujan akan berlangsung hingga akhir Maret.

Ia memaparkan, titik yang rawan longsor di Tahura Djuanda yaitu spot jogging track dari Gua Belanda hingga Curug Omas. Selama 2018 ini pun Ganjar mencatat tidak ada kejadian longsor apapun di kompleks Tahura Djuanda.

"Mau datang ke gua atau air terjun, aksesnya masih terkendali. Tapi masyarakat tetap diimbau untuk hati-hati, karena namanya bencana itu tidak bisa diperkirakan," pungkasnya.



 

BERITA LAINNYA



Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang

Pak Eko Tuntut Akses Jalan Sesuai Sertifikat Rumahnya
Sabtu 22 September 2018
Kota Bandung


Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang

Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang

 

Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang  TWITER @prfmnews





 

BERITA PILIHAN

 

Menilik Nilai Positif dari Patahan Lembang