Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi  




Rabu 13 November 2019

02:00 WIB

Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi
@prfmnews

Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi
PRFMNewsChannel

Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi

Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi
Rabu 12 Juni 2019, 13:21 WIB

Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi
Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi




Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi

Redaksi Oleh : Shinta Puspita
Foto Oleh : Ilustrasi

BANDUNG, (PRFM) - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menenggarai adanya predatory pricing dibalik diskon dalam persaingan aplikator ojek online (ojol). Predatory pricing ini dinilai berpotensi membuat persaingan usaha antar aplikator ojol menjadi tidak sehat. Pengamat Ekonomi Universitas Hasanuddin yang juga Pendiri Institute For Competition and Policy Analysis, Syarkawi Rauf menyampaikan Predatory Pricing merupakan penetapan harga jual yang tujuannya merebut pangsa pasar.

"Tujuannya adalah merebut pangsa pasar dari pesaing, sekaligus mengusir pesain dari para. Tujuannya adalah menjadi perusahaan dominan di pasar, memonopoli pasar. Ujung-ujungnya saat menjadi perusahaan di pasar mereka akan menaikkan harga. Pada saat itulah konsumen akan dieksploitasi dengan harga jual yang jauh diatas biasanya yang dikeluarkan perusahaan bersangkutan", terang Syarkawi 

Dalam bisnis ojek online, terdapat instrumen untuk melindungi konsumen dari eksploitasi harga. Instrumen ini merupakan tarif batas atas dan batas bawah. Tarif atas bawah digunakan untuk melindungi pengguna jasa agar pengguna jasa tidak dieksploitasi saat permintaan tinggi. Sementara tarif batas bawah berfungsi untuk melindungi produsen dari tidakan produsen lain yang sengaja membunuh pengusaha lain dengan menetapkan tarif lebih rendah. 

"Katakanlah untuk ojek online, ongkosnya per km nya misalnya Rp 5000 atau Rp 3000, tapi mereka jual Rp 1500. Sementara 1500 itu disebut uang yang hilang saja, atau disebut jual rugi. Nah dalam istilah hukum persaingan itu disebut Predatory Pricing", jelas Syarkawi

Terdapat operator memiliki permodalan yang besar sehingga memberikan subsidi kepada customer maupun driver. Sehingga harga yang diterima konsumen sangat rendah. Hal ini tidak bisa diimabngi oleh operator lain yang memiliki permodalan kecil. Hal ini menurut Syarkawi belum diataur oleh Peraturan Menteri Perhubungan.

"Semuanya serba subsidi sehingga harga yang diterima oleh konsumen sangat rendah. Ini tidak bisa diimbangi operator lain. Alasannya promosi dilakukan adalah karena untuk promosi. Nah memang ini yang belum diatur Peraturan Menteri Perhubungan. Untuk melakukan promosi hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Jangan promosi itu dilakukan sepanjang tahun", tambah Syarkawi.










 

BERITA TERKAIT


Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi
 

BERITA PILIHAN


Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi

 

BERITA LAINNYA

Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi

Robert Sanjung Pemain dan Dukungan Bobotoh
Selasa 12 November 2019


746 Desa Belum Punya BUMDes, Pemprov Jabar Siap Terjunkan Patriot Desa
Selasa 12 November 2019 Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi Pemprov Jabar Terus Dorong DPRD Anggarkan Rute Penerbangan Bandung-Pangandaran
Selasa 12 November 2019 Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi Ditargetkan Beroperasi Pada 2024, Tol Cigatas Berpotensi Berubah Nama
Selasa 12 November 2019 Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi Dishub Jabar Sebut Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bisa Digunakan Pada Akhir 2021
Selasa 12 November 2019 Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi Cara Sederhana Jaga Kesehatan Saat Musim Hujan
Selasa 12 November 2019 Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi Wagub Jabar Dukung Fatwa MUI Soal Salam Agama Lain
Selasa 12 November 2019 Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi

Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi

 

 

BERITA TERKAIT

Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi

Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi
Rabu 12 Juni 2019, 13:21 WIB

Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi
Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi


Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi

Redaksi Oleh : Shinta Puspita
Sumber Foto : Ilustrasi


BANDUNG, (PRFM) - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menenggarai adanya predatory pricing dibalik diskon dalam persaingan aplikator ojek online (ojol). Predatory pricing ini dinilai berpotensi membuat persaingan usaha antar aplikator ojol menjadi tidak sehat. Pengamat Ekonomi Universitas Hasanuddin yang juga Pendiri Institute For Competition and Policy Analysis, Syarkawi Rauf menyampaikan Predatory Pricing merupakan penetapan harga jual yang tujuannya merebut pangsa pasar.

"Tujuannya adalah merebut pangsa pasar dari pesaing, sekaligus mengusir pesain dari para. Tujuannya adalah menjadi perusahaan dominan di pasar, memonopoli pasar. Ujung-ujungnya saat menjadi perusahaan di pasar mereka akan menaikkan harga. Pada saat itulah konsumen akan dieksploitasi dengan harga jual yang jauh diatas biasanya yang dikeluarkan perusahaan bersangkutan", terang Syarkawi 

Dalam bisnis ojek online, terdapat instrumen untuk melindungi konsumen dari eksploitasi harga. Instrumen ini merupakan tarif batas atas dan batas bawah. Tarif atas bawah digunakan untuk melindungi pengguna jasa agar pengguna jasa tidak dieksploitasi saat permintaan tinggi. Sementara tarif batas bawah berfungsi untuk melindungi produsen dari tidakan produsen lain yang sengaja membunuh pengusaha lain dengan menetapkan tarif lebih rendah. 

"Katakanlah untuk ojek online, ongkosnya per km nya misalnya Rp 5000 atau Rp 3000, tapi mereka jual Rp 1500. Sementara 1500 itu disebut uang yang hilang saja, atau disebut jual rugi. Nah dalam istilah hukum persaingan itu disebut Predatory Pricing", jelas Syarkawi

Terdapat operator memiliki permodalan yang besar sehingga memberikan subsidi kepada customer maupun driver. Sehingga harga yang diterima konsumen sangat rendah. Hal ini tidak bisa diimabngi oleh operator lain yang memiliki permodalan kecil. Hal ini menurut Syarkawi belum diataur oleh Peraturan Menteri Perhubungan.

"Semuanya serba subsidi sehingga harga yang diterima oleh konsumen sangat rendah. Ini tidak bisa diimbangi operator lain. Alasannya promosi dilakukan adalah karena untuk promosi. Nah memang ini yang belum diatur Peraturan Menteri Perhubungan. Untuk melakukan promosi hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Jangan promosi itu dilakukan sepanjang tahun", tambah Syarkawi.






 

BERITA LAINNYA



Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi

Robert Sanjung Pemain dan Dukungan Bobotoh
Selasa 12 November 2019
Persib vs Arema FC 2019


Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi

Dishub Jabar Sebut Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bisa Digunakan Pada Akhir 2021
Selasa 12 November 2019
Kereta Cepat Jakarta-Bandung


Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi

Cara Sederhana Jaga Kesehatan Saat Musim Hujan
Selasa 12 November 2019
Musim Hujan