Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi  




Rabu 18 September 2019

10:23 WIB

Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi
@prfmnews

Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi
PRFMNewsChannel

Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi

Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi
Rabu 12 Juni 2019, 13:21 WIB

Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi
Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi




Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi

Redaksi Oleh : Shinta Puspita
Foto Oleh : Ilustrasi

BANDUNG, (PRFM) - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menenggarai adanya predatory pricing dibalik diskon dalam persaingan aplikator ojek online (ojol). Predatory pricing ini dinilai berpotensi membuat persaingan usaha antar aplikator ojol menjadi tidak sehat. Pengamat Ekonomi Universitas Hasanuddin yang juga Pendiri Institute For Competition and Policy Analysis, Syarkawi Rauf menyampaikan Predatory Pricing merupakan penetapan harga jual yang tujuannya merebut pangsa pasar.

"Tujuannya adalah merebut pangsa pasar dari pesaing, sekaligus mengusir pesain dari para. Tujuannya adalah menjadi perusahaan dominan di pasar, memonopoli pasar. Ujung-ujungnya saat menjadi perusahaan di pasar mereka akan menaikkan harga. Pada saat itulah konsumen akan dieksploitasi dengan harga jual yang jauh diatas biasanya yang dikeluarkan perusahaan bersangkutan", terang Syarkawi 

Dalam bisnis ojek online, terdapat instrumen untuk melindungi konsumen dari eksploitasi harga. Instrumen ini merupakan tarif batas atas dan batas bawah. Tarif atas bawah digunakan untuk melindungi pengguna jasa agar pengguna jasa tidak dieksploitasi saat permintaan tinggi. Sementara tarif batas bawah berfungsi untuk melindungi produsen dari tidakan produsen lain yang sengaja membunuh pengusaha lain dengan menetapkan tarif lebih rendah. 

"Katakanlah untuk ojek online, ongkosnya per km nya misalnya Rp 5000 atau Rp 3000, tapi mereka jual Rp 1500. Sementara 1500 itu disebut uang yang hilang saja, atau disebut jual rugi. Nah dalam istilah hukum persaingan itu disebut Predatory Pricing", jelas Syarkawi

Terdapat operator memiliki permodalan yang besar sehingga memberikan subsidi kepada customer maupun driver. Sehingga harga yang diterima konsumen sangat rendah. Hal ini tidak bisa diimabngi oleh operator lain yang memiliki permodalan kecil. Hal ini menurut Syarkawi belum diataur oleh Peraturan Menteri Perhubungan.

"Semuanya serba subsidi sehingga harga yang diterima oleh konsumen sangat rendah. Ini tidak bisa diimbangi operator lain. Alasannya promosi dilakukan adalah karena untuk promosi. Nah memang ini yang belum diatur Peraturan Menteri Perhubungan. Untuk melakukan promosi hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Jangan promosi itu dilakukan sepanjang tahun", tambah Syarkawi.










 

BERITA TERKAIT


Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi
 

BERITA PILIHAN


Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi

 

BERITA LAINNYA

Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi

King Eze Belum Hadir, Umuh Kecewa
Rabu 18 September 2019


Greenpeace Memprediksi Ladang Kelapa Sawit Segera Muncul Usai Karhutla
Selasa 17 September 2019 Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi Indef: Tanpa Menaikkan Cukai, Tren Konsumsi Rokok Sudah Menurun
Selasa 17 September 2019 Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi Ajay Harap Basket jadi Olahraga Unggulan Jawa Barat
Selasa 17 September 2019 Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi Galian Kabel Sebabkan Lalin Bundaran Cibiru Padat Merayap
Selasa 17 September 2019 Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi KPAI Sebut Penghasilan Pengusaha Rokok Bisa Capai Rp 400 Triliun Per Tahun
Selasa 17 September 2019 Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi Semen Padang Berharap Curi Poin di Bandung
Selasa 17 September 2019 Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi

Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi

 

 

BERITA TERKAIT

Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi

Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi
Rabu 12 Juni 2019, 13:21 WIB

Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi
Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi


Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi

Redaksi Oleh : Shinta Puspita
Sumber Foto : Ilustrasi


BANDUNG, (PRFM) - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menenggarai adanya predatory pricing dibalik diskon dalam persaingan aplikator ojek online (ojol). Predatory pricing ini dinilai berpotensi membuat persaingan usaha antar aplikator ojol menjadi tidak sehat. Pengamat Ekonomi Universitas Hasanuddin yang juga Pendiri Institute For Competition and Policy Analysis, Syarkawi Rauf menyampaikan Predatory Pricing merupakan penetapan harga jual yang tujuannya merebut pangsa pasar.

"Tujuannya adalah merebut pangsa pasar dari pesaing, sekaligus mengusir pesain dari para. Tujuannya adalah menjadi perusahaan dominan di pasar, memonopoli pasar. Ujung-ujungnya saat menjadi perusahaan di pasar mereka akan menaikkan harga. Pada saat itulah konsumen akan dieksploitasi dengan harga jual yang jauh diatas biasanya yang dikeluarkan perusahaan bersangkutan", terang Syarkawi 

Dalam bisnis ojek online, terdapat instrumen untuk melindungi konsumen dari eksploitasi harga. Instrumen ini merupakan tarif batas atas dan batas bawah. Tarif atas bawah digunakan untuk melindungi pengguna jasa agar pengguna jasa tidak dieksploitasi saat permintaan tinggi. Sementara tarif batas bawah berfungsi untuk melindungi produsen dari tidakan produsen lain yang sengaja membunuh pengusaha lain dengan menetapkan tarif lebih rendah. 

"Katakanlah untuk ojek online, ongkosnya per km nya misalnya Rp 5000 atau Rp 3000, tapi mereka jual Rp 1500. Sementara 1500 itu disebut uang yang hilang saja, atau disebut jual rugi. Nah dalam istilah hukum persaingan itu disebut Predatory Pricing", jelas Syarkawi

Terdapat operator memiliki permodalan yang besar sehingga memberikan subsidi kepada customer maupun driver. Sehingga harga yang diterima konsumen sangat rendah. Hal ini tidak bisa diimabngi oleh operator lain yang memiliki permodalan kecil. Hal ini menurut Syarkawi belum diataur oleh Peraturan Menteri Perhubungan.

"Semuanya serba subsidi sehingga harga yang diterima oleh konsumen sangat rendah. Ini tidak bisa diimbangi operator lain. Alasannya promosi dilakukan adalah karena untuk promosi. Nah memang ini yang belum diatur Peraturan Menteri Perhubungan. Untuk melakukan promosi hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Jangan promosi itu dilakukan sepanjang tahun", tambah Syarkawi.






 

BERITA LAINNYA



Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi

King Eze Belum Hadir, Umuh Kecewa
Rabu 18 September 2019
PERSIB


Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi

Greenpeace Memprediksi Ladang Kelapa Sawit Segera Muncul Usai Karhutla
Selasa 17 September 2019
Karhutla Sumatera dan Kalimantan


Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi

Indef: Tanpa Menaikkan Cukai, Tren Konsumsi Rokok Sudah Menurun
Selasa 17 September 2019
Kenaikan Cukai Rokok


Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi

Ajay Harap Basket jadi Olahraga Unggulan Jawa Barat
Selasa 17 September 2019
Scorpio Cup 2019


Pengamat: Perang Tarif Ojol Akibat Tiada Regulasi

Galian Kabel Sebabkan Lalin Bundaran Cibiru Padat Merayap
Selasa 17 September 2019
Bundaran Cibiru