Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan  




Jumat 22 Juni 2018

21:59 WIB

Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan
@prfmnews

Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan
PRFMNewsChannel

Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan

Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan
Sabtu 16 Desember 2017, 18:15 WIB

Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan
Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan




Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan

Redaksi Oleh : Desy Viani
Foto Oleh : Kementerian PUPR

BANDUNG, (PRFM) - Dalam ilmu gempa bumi atau seismologi, terjadinya fenomena alam gempa bumi hingga saat ini tidak bisa diprediksi. Sehingga tidak heran, masyarakat tetap panik dan khawatir ketika gempa terjadi.


Demikian disampaikan Pakar Gempa dari Institut Teknologi Bandung, Sri Widiantoro saat on air di PRFM, Sabtu (16/12/2017).


Meski begitu, lanjutnya, masyarakat tidak perlu cemas karena Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sudah membuat peta bahaya gempa yang baru. Mengingat Indonesia termasuk negara yang rawan gempa.


"Peta itu memuat wilayah yang sudah identifikasi potensi bahaya gempanya. Tapi kalau prediksi, siapapun tidak ada yang bisa. Dalam peta ini juga diinformasikan bahwa ada wilayah yang potensi gempanya mencapai 8.0-9.0 skala richter," papar  Widiantoro.


Ia menjelaskan, peta bahaya gempa ini harus gencar disosialisasikan agar masyarakat yang tinggal di wilayah rawan gempa bisa selalu waspada. Peta ini juga harus jadi acuan agar bisa meminimalisir dampak dari gempa bumi.


"Jadi acuan untuk membangun gedung, rumah dan lainnya sehingga bisa meminimalisir dampak akibat gempa," ujarnya.


Lebih lanjut Widiantoro menjelaskan, Pulau Jawa, Sumatra, Bali dan sekitarnya merupakan zona konvergensi yang mempertemukan lempeng indo-australia dan eurasia. Gempa bumi terjadi karena ada aktivitas subduksi atau pergerakan kedua lempeng tersebut.


"Kenapa lempeng bergerak? karena di selatan Australia ada pemekaran lantai samudra yang mendorong lempeng indo-australia ke arah utara yaitu Indonesia. Gerakan ini terjadi terus menerus, akibat dari konveksi termal di dalam bumi, maka bumi ini terus bergerak," tambahnya.


Negara kepulauan sendiri, lanjut  Widiantoro, terbentuk dari aktivitas tumpukan lempeng sehingga Indonesia termasuk negara rawan gempa. Potensi gempanya berbeda dengan negara-negara lain yang wilayahnya lebih besar, seperti Amerika Serikat atau Australia.


"Bahkan potensi gempa di Kalimantan juga berbeda dengan Sumatra dan Jawa," tandasnya.



Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan

Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan

 

BERITA TERKAIT


Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan
 

BERITA PILIHAN


Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan

 

BERITA LAINNYA

Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan

Arus Balik di Terminal Cicaheum Naik 17% Dibanding Tahun 2017
Jumat 22 Juni 2018


Persib Tantang Persija di Stadion PTIK Jakarta
Jumat 22 Juni 2018 Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan Awal Juni Ini Realisasi APBD Jabar TA 2018 Capai 36,73%
Jumat 22 Juni 2018 Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan Disdukcapil Kota Bandung Gelar Operasi Simpatik di Cicaheum
Jumat 22 Juni 2018 Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan Pengamat Nilai Pemerintah Hanya Fokus Pada Arus Mudik Lebaran
Jumat 22 Juni 2018 Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan Tanggal 24 Juni 2018 Batas Akhir Penyerahan LPPDK Paslon Gubernur
Jumat 22 Juni 2018 Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan Proyek Tol Bandung-Tasik Sudah Tahap Lelang Investasi
Jumat 22 Juni 2018 Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan

Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan

 

 

BERITA TERKAIT

Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan

Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan
Sabtu 16 Desember 2017, 18:15 WIB

Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan
Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan


Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan

Redaksi Oleh : Desy Viani
Sumber Foto : Kementerian PUPR


BANDUNG, (PRFM) - Dalam ilmu gempa bumi atau seismologi, terjadinya fenomena alam gempa bumi hingga saat ini tidak bisa diprediksi. Sehingga tidak heran, masyarakat tetap panik dan khawatir ketika gempa terjadi.


Demikian disampaikan Pakar Gempa dari Institut Teknologi Bandung, Sri Widiantoro saat on air di PRFM, Sabtu (16/12/2017).


Meski begitu, lanjutnya, masyarakat tidak perlu cemas karena Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sudah membuat peta bahaya gempa yang baru. Mengingat Indonesia termasuk negara yang rawan gempa.


"Peta itu memuat wilayah yang sudah identifikasi potensi bahaya gempanya. Tapi kalau prediksi, siapapun tidak ada yang bisa. Dalam peta ini juga diinformasikan bahwa ada wilayah yang potensi gempanya mencapai 8.0-9.0 skala richter," papar  Widiantoro.


Ia menjelaskan, peta bahaya gempa ini harus gencar disosialisasikan agar masyarakat yang tinggal di wilayah rawan gempa bisa selalu waspada. Peta ini juga harus jadi acuan agar bisa meminimalisir dampak dari gempa bumi.


"Jadi acuan untuk membangun gedung, rumah dan lainnya sehingga bisa meminimalisir dampak akibat gempa," ujarnya.


Lebih lanjut Widiantoro menjelaskan, Pulau Jawa, Sumatra, Bali dan sekitarnya merupakan zona konvergensi yang mempertemukan lempeng indo-australia dan eurasia. Gempa bumi terjadi karena ada aktivitas subduksi atau pergerakan kedua lempeng tersebut.


"Kenapa lempeng bergerak? karena di selatan Australia ada pemekaran lantai samudra yang mendorong lempeng indo-australia ke arah utara yaitu Indonesia. Gerakan ini terjadi terus menerus, akibat dari konveksi termal di dalam bumi, maka bumi ini terus bergerak," tambahnya.


Negara kepulauan sendiri, lanjut  Widiantoro, terbentuk dari aktivitas tumpukan lempeng sehingga Indonesia termasuk negara rawan gempa. Potensi gempanya berbeda dengan negara-negara lain yang wilayahnya lebih besar, seperti Amerika Serikat atau Australia.


"Bahkan potensi gempa di Kalimantan juga berbeda dengan Sumatra dan Jawa," tandasnya.



 

BERITA LAINNYA



Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan

Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan

 

Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan  TWITER @prfmnews





 

BERITA PILIHAN

 

Peta Bahaya Gempa Harus Disosialisasikan