UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda  




Senin 10 Desember 2018

20:33 WIB

UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda
@prfmnews

UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda
PRFMNewsChannel

UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda

UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda
Jumat 30 November 2018, 10:09 WIB

UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda
UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda




UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda

Redaksi Oleh : Asep Yusuf Anshori
Foto Oleh : Istimewa/Net

Foto : Musisi Reggae asal Jamaika, Bob Marley (istimewa/net)


BANDUNG, (PRFM) - Badan budaya PBB, UNESCO menetapkan reggae, musik yang memberi "kontribusi internasional dalam isu ketidakadilan, kemanusiaan" masuk dalam daftar warisan tak benda. UNESCO sendiri menyatakan musik yang berasal dari Jamaica ini perlu dicantumkan dalam daftar global "warisan budaya tak benda" karena perlu dilindungi dan dipromosikan.

Kontribusi reggae untuk isu internasional seperti ketidakadilan, perlawanan, cinta, kemanusiaan, menekankan pada elemen dinamis dalam bidang sosial, politik dan spiritual tak perlu diragukan lagi.

"Ini adalah sebuah musik yang telah menembus semua sudut dunia," kata salah satu perwakilan dari UNESCO, dikutip laman BBC, Jumat (30/11/2018).

Jamaika mengajukan reggae sebagai warisan tak benda pada sebuah pertemuan badan PBB di Mauritius, di mana 40 usulan lainnya juga dipertimbangkan.

"Reggae sangat mewakili Jamaika," kata Menteri Kebudayaan Jamaika, Olivia Grange.

Reggae bersaing dengan strawcraft Bahama, gulat Korea Selatan, olahraga melempar Irlandia dan pembuatan minyak wangi di kota Grasse, Prancis.

Meskipun hanyalah simbolis, dimasukkannya musik ini pada daftar warisan budaya UNESCO dipandang dapat meningkatkan kedudukan suatu negara dan juga musik atau budayanya.

Walaupun pada mulanya musik reggae adalah suara kelompok terpinggirkan, namun musik itu sekarang dimainkan dan dirangkul banyak kelompok masyarakat, termasuk berbagai jenis kelamin, kelompok suku dan agama.

Gaya musik ini tergabung dalam daftar budaya dunia lain seperti keahlian berkuda Spanish Riding School di Wina, ritual mengambil hati unta Mongolia, boneka Ceko dan lebih 300 tradisi lain, mulai dari pembuatan perahu, ziarah sampai ke memasak. Batik masuk dalam warisan budaya UNESCO pada 2009, sementara Indonesia juga tengah mempertimbangkan mengajukan tempe sebagai warisan budaya.

Untuk diketahui, Reggae muncul pada akhir tahun 1960-an, dari ska Jamaika dan rocksteady, disamping juga dipengaruhi jazz dan blues Amerika. Gaya ini segera digemari di Amerika Serikat, selain di Inggris di mana banyak imigran Jamaika pindah setelah Perang Dunia Kedua.

Reggae juga dikaitkan dengan Rastafarianisme, yang mendewakan kaisar Etiopia, Haile Selassie, disamping penggunaan ganja atau marijuana.

Lagu "Do the Reggay" dari tahun 1968 oleh Toots and the Maytals menjadi lagu populer pertama yang menggunakan kata itu. Marley dan kelompoknya the Wailers mengeluarkan lagu hits seperti "No Woman, No Cry" dan "Stir It Up." Peter Tosh, anggota inti the Wailers, berkarir solo lewat lagu populer seperti "Legalize It," sementara Desmond Dekker menjadi terkenal di dunia lewat "Israelites."

Toots and the Maytals diketahui banyak orang lewat "Pressure Drop" dan Jimmy Cliff menjadi pemusik dunia lewat "The Harder They Come," yang juga menjadi judul film yang dibintanginya pada tahun 1972. Suara reggae, dengan bass dan drum yang kental, telah mempengaruhi banyak seniman dan menjadi inspirasi berbagai genre.



UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda

UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda

 

BERITA TERKAIT


UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda
 

BERITA PILIHAN


UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda

 

BERITA LAINNYA

UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda

Desa Digital Bakal Dikembangkan ke 5.300 Desa di Seluruh Jabar
Senin 10 Desember 2018


Wabup Sumedang Cek Kehadiran ASN Saat Peringatan Hari HAM
Senin 10 Desember 2018 UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda Selebrasi Double Winner Persib U-19 dan U-16, Jalan Sulanjana Bakal Ditutup
Senin 10 Desember 2018 UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda Jelang Natal dan Tahun Baru Dinsosnangkis Terus Pantau PMKS
Senin 10 Desember 2018 UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda Disparbud Kab. Bandung Akan Launching Pasar Digital Cimenyan Akhir Tahun Ini
Senin 10 Desember 2018 UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda Sambut Tahun Baru, Kecamatan Gedebage Gelar Bazar Kepokmas Murah
Senin 10 Desember 2018 UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda River Plate Juara Copa Libertadores 2018
Senin 10 Desember 2018 UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda

UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda

 

 

BERITA TERKAIT

UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda

UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda
Jumat 30 November 2018, 10:09 WIB

UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda
UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda


UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda

Redaksi Oleh : Asep Yusuf Anshori
Sumber Foto : Istimewa/Net


Foto : Musisi Reggae asal Jamaika, Bob Marley (istimewa/net)


BANDUNG, (PRFM) - Badan budaya PBB, UNESCO menetapkan reggae, musik yang memberi "kontribusi internasional dalam isu ketidakadilan, kemanusiaan" masuk dalam daftar warisan tak benda. UNESCO sendiri menyatakan musik yang berasal dari Jamaica ini perlu dicantumkan dalam daftar global "warisan budaya tak benda" karena perlu dilindungi dan dipromosikan.

Kontribusi reggae untuk isu internasional seperti ketidakadilan, perlawanan, cinta, kemanusiaan, menekankan pada elemen dinamis dalam bidang sosial, politik dan spiritual tak perlu diragukan lagi.

"Ini adalah sebuah musik yang telah menembus semua sudut dunia," kata salah satu perwakilan dari UNESCO, dikutip laman BBC, Jumat (30/11/2018).

Jamaika mengajukan reggae sebagai warisan tak benda pada sebuah pertemuan badan PBB di Mauritius, di mana 40 usulan lainnya juga dipertimbangkan.

"Reggae sangat mewakili Jamaika," kata Menteri Kebudayaan Jamaika, Olivia Grange.

Reggae bersaing dengan strawcraft Bahama, gulat Korea Selatan, olahraga melempar Irlandia dan pembuatan minyak wangi di kota Grasse, Prancis.

Meskipun hanyalah simbolis, dimasukkannya musik ini pada daftar warisan budaya UNESCO dipandang dapat meningkatkan kedudukan suatu negara dan juga musik atau budayanya.

Walaupun pada mulanya musik reggae adalah suara kelompok terpinggirkan, namun musik itu sekarang dimainkan dan dirangkul banyak kelompok masyarakat, termasuk berbagai jenis kelamin, kelompok suku dan agama.

Gaya musik ini tergabung dalam daftar budaya dunia lain seperti keahlian berkuda Spanish Riding School di Wina, ritual mengambil hati unta Mongolia, boneka Ceko dan lebih 300 tradisi lain, mulai dari pembuatan perahu, ziarah sampai ke memasak. Batik masuk dalam warisan budaya UNESCO pada 2009, sementara Indonesia juga tengah mempertimbangkan mengajukan tempe sebagai warisan budaya.

Untuk diketahui, Reggae muncul pada akhir tahun 1960-an, dari ska Jamaika dan rocksteady, disamping juga dipengaruhi jazz dan blues Amerika. Gaya ini segera digemari di Amerika Serikat, selain di Inggris di mana banyak imigran Jamaika pindah setelah Perang Dunia Kedua.

Reggae juga dikaitkan dengan Rastafarianisme, yang mendewakan kaisar Etiopia, Haile Selassie, disamping penggunaan ganja atau marijuana.

Lagu "Do the Reggay" dari tahun 1968 oleh Toots and the Maytals menjadi lagu populer pertama yang menggunakan kata itu. Marley dan kelompoknya the Wailers mengeluarkan lagu hits seperti "No Woman, No Cry" dan "Stir It Up." Peter Tosh, anggota inti the Wailers, berkarir solo lewat lagu populer seperti "Legalize It," sementara Desmond Dekker menjadi terkenal di dunia lewat "Israelites."

Toots and the Maytals diketahui banyak orang lewat "Pressure Drop" dan Jimmy Cliff menjadi pemusik dunia lewat "The Harder They Come," yang juga menjadi judul film yang dibintanginya pada tahun 1972. Suara reggae, dengan bass dan drum yang kental, telah mempengaruhi banyak seniman dan menjadi inspirasi berbagai genre.



 

BERITA LAINNYA



UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda

UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda

 

UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda  TWITER @prfmnews





 

BERITA PILIHAN

 

UNESCO Nobatkan Musik Reggae Sebagai Warisan Tak Benda